Pages

Baiah Utsman bin affan

Dari 'Amru bin Maimun berkata; Aku melihat 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu di Madinah beberapa hari sebelum dia ditikam. Ia berdiri di hadapan Hudzaifah bin Al Yaman dan 'Utsman bin Hunaif. 

'Umar bertanya; "Bagaimana yang kalian berdua kerjakan?. Apakah kalian berdua khawatir membebani penduduk Sawad (yang mereka terkena pajak) dengan sesuatu yang melebihi kemampuannya?. 

Keduanya menjawab; "Kami membebaninya dengan kebijakan yang sesuai kemampuannya, tidak ada kelebihan beban yang besar". 

'Umar berkata; "Jika Allah Subhaanahu wa Ta'ala menyelamatkan aku, tentu akan kubiarkan janda-janda penduduk 'Iraq tidak membutuhkabn seorang laki-laki setelah aku untuk selama-lamanya". 

Perawi berkata; "Setelah pembicaraan itu, 'Umar tidak melewati hari-hari kecuali hanya sampai hari ke empat semenjak dia terkena mushibah (tikaman). 

Perawi ('Amru) berkata; "Aku berdiri dan tidak ada seorangpun antara aku dan dia kecuali 'Abdullah bin 'Abbas pada Shubuh hari saat 'Umar terkena mushibah. Shubuh itu, 'Umar hendak memimpin shalat dengan melewati barisan shaf lalu berkata; "Luruskanlah shaf". Ketika dia sudah tidak melihat lagi pada jama'ah ada celah-celah dalam barisan shaf tersebut, maka 'Umar maju lalu bertakbir. Sepertinya dia membaca surat Yusuf atau an-Nahl atau seperti surat itu pada raka'at pertama hingga memungkinkan semua orang bergabung dalam shalat. Ketika aku tidak mendengar sesuatu darinya kecuali ucapan takbir tiba-tiba terdengar dia berteriak; "Ada orang yang membunuhku, atau katanya; "seekor anjing telah menerkamku", rupanya ada seseorang yang menikamnya dengan sebilah pisau bermata dua. Penikam itu tidaklah melewati orang-orang di sebelah kanan atau kirinya melainkan dia menikamnya pula hingga dia telah menikam sebanyak tiga belas orang yang mengakibatkan tujuh orang diantaranya meninggal dunia. Ketika seseorang dari kaum muslimin melihat kejadian itu, dia melemparkan baju mantelnya dan tepat mengenai si pembunuh itu. Dan ketika dia menyadari bahwa dia musti tertangkap (tak lagi bisa menghindar), dia bunuh diri. 'Umar memegang tangan 'Abdur Rahman bin 'Auf lalu menariknya ke depan. Siapa saja orang yang berada dekat dengan 'Umar pasti dapat melihat apa yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berada di sudut-sudut masjid, mereka tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, selain hanya tidak mendengar suara 'Umar. Mereka berkata; "Subhaanalah, Subhaanalah (maha suci Allah) ". Maka 'Abdur Rahman melanjutkan shalat jama'ah secara ringan.

Setelah shalat selesai, 'Umar bertanya; "Wahai Ibnu 'Abbas, lihatlah siapa yang telah membunuhku". 

Ibnu 'Abbas berkeliling sesaat lalu kembali dan berkata; "Budaknya Al Mughirah". 

'Umar bertanya; "O, si budak yang pandai membuat pisau itu?. 

Ibnu 'Abbas menjawab; "Ya benar". 

'Umar berkata; "Semoga Allah membunuhnya, sungguh aku telah memerintahkan dia berbuat ma'ruf (kebaikan). Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku beragama Islam. Sungguh dahulu kamu dan bapakmu suka bila orang kafir non arab banyak berkeliaran di Madinah. 

'Abbas adalah orang yang paling banyak memiliki budak. Ibnu 'Abbas berkata; "Jika anda menghendaki, aku akan kerjakan apapun. Maksudku, jika kamu menghendaki kami akan membunuhnya". 

'Umar berkata; "Kamu berbohong, (sebab mana boleh kalian membunuhnya) padahal mereka telah telanjur bicara dengan bahasa kalian, shalat menghadap qiblat kalian dan naik haji seperti haji kalian". 

Kemudian 'Umar dibawa ke rumahnya dan kami ikut menyertainya. Saat itu orang-orang seakan-akan  tidak pernah terkena mushibah seperti hari itu sebelumnya. Diantara mereka ada yang berkata; "Dia tidak apa-apa". Dan ada juga yang berkata; "Aku sangat mengkhawatirkan nasibnya". Kemudian 'Umar disuguhkan anggur lalu dia memakannya namun makanan itu keluar lewat perutnya. Kemudian diberi susu lalu diapun meminumnya lagi namun susu itu keluar melalui lukanya. Akhirnya orang-orang menyadari bahwa 'Umar segera akan meninggal dunia. Maka kami pun masuk menjenguknya lalu diikuti oleh orang-orang yang datang dan memujinya. 

Tiba-tiba datang seorang pemuda seraya berkata; "Berbahagialah anda, wahai Amirul Mu'minin dengan kabar gembira dari Allah untuk anda karena telah hidup dengan mendampingi (menjadi shahabat) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan yang terdahulu menerima Islam berupa ilmu yang anda ketahui. Lalu anda diberi kepercayaan menjadi pemimpin dan anda telah menjalankannya  dengan adil lalu anda mati syahid". 

'Umar berkata; "Aku sudah merasa senang jika masa kekhilafahanku berakhir netral, aku tidak terkena dosa dan juga tidak mendapat pahala." 

Ketika pemuda itu berlalu, tampak pakaiannya menyentuh tanah, maka 'Umar berkata; "Bawa kembali pemuda itu kepadaku". 'Umar berkata kepadanya; "Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu karena yang demikian itu lebih mengawetkan pakaianmu dan lebih membuatmu taqwa kepada Rabbmu. Wahai 'Abdullah bin 'Umar, lihatlah berapa jumlah hutang yang menjadi kewajibanku". 

Maka mereka menghitungnya dan mendapatan hasilnya bahwa hutangnya sebesar delapan puluh enam ribu atau sekitar itu. 'Umar berkata; "Jika harta keluarga 'Umar mencukupi bayarlah hutang itu dengan harta mereka. Namun apabila tidak mencukupi maka mintalah kepada Bani 'Adiy bin Ka'ab. Dan apabila harta mereka masih tidak mencukupi, maka mintalah kepada masyarakat Quraisy dan jangan mengesampingkan mereka dengan meminta kepada selain mereka lalu lunasilah hutangku dengan harta-harta itu. Temuilah 'Aisyah, Ummul Mu'minin radliallahu 'anha, dan sampaikan salam dari 'Umar dan jangan kalian katakan dari Amirul Muminin karena hari ini bagi kaum mu'minin aku bukan lagi sebagai pemimpin dan katakan bahwa 'Umar bin Al Khaththab meminta izin untuk dikuburkan di samping kedua shahabatnya". 

Maka 'Abdullah bin 'Umar memberi salam, meminta izin lalu masuk menemui 'Aisyah radliallahu 'anha. Ternyata 'Abdullah bin 'Umar mendapatkan 'Aisyah radliallahu 'anha sedang menangis. Lalu dia berkata; "'Umar bin Al Khathtab menyampaikan salam buat anda dan meminta ijin agar boleh dikuburkan disamping kedua sahabatnya (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakr radliallahu 'anhu) ". 

'Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu untuk diriku namun hari ini aku tidak akan lebih mementingkan diriku". 

Ketika 'Abdullah bin 'Umar kembali, dikatakan kepada 'Umar; "Ini dia, 'Abdullah bin 'Umar sudah datang". Maka 'Umar berkata; "Angkatlah aku". Maka seorang laki-laki datang menopangnya. 'Umar bertanya: "Berita apa yang kamu bawa?". Ibnu 'Umar menjawab; "Berita yang anda sukai, wahai Amirul Mu'minin. 'Aisyah telah mengizinkan anda". 'Umar berkata; "Alhamdu lillah. Tidak ada sesuatu yang paling penting bagiku selain hal itu. Jika aku telah meninggal, bawalah jasadku kepadanya dan sampaikan salamku lalu katakan bahwa 'Umar bin Al Khaththab meminta izin. Jka dia mengizinkan maka masukkanlah aku (kuburkan) namun bila dia menolak maka kembalikanlah jasadku ke kuburan Kaum Muslimin. 

Kemudian Hafshah, Ummul Mu'minin datang dan beberapa wanita ikut bersamanya. Tatkala kami melihatnya, kami segera berdiri. Hafshah kemudian mendekat kepada 'Umar lalu dia menangis sejenak. Kemudian beberapa orang laki-laki meminta izin masuk, maka Hafshah masuk ke kamar karena ada orang yang mau masuk. Maka kami dapat mendengar tangisan Hafshah dari balik kamar. 

Orang-orang itu berkata; "Berilah wasiat, wahai Amirul Mu'minin. Tentukanlah pengganti anda". 

'Umar berkata; "Aku tidak menemukan orang yang paling berhak atas urusan ini daripada mereka atau segolongam mereka yang ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat beliau ridla kepada mereka. 

Maka dia menyebut nama 'Ali, 'Utsman, Az Zubair, Thalhah, Sa'ad dan 'Abdur Rahman. Selanjutnya dia berkata; "'Abdullah bin 'Umar akan menjadi saksi atas kalian. Namun dia tidak punya peran dalam urusan ini, dan tugas itu hanya sebagai bentuk penghibur baginya. Jika kepemimpinan jatuh ketangan Sa'ad, maka dialah pemimpin urusan ini. Namun apabila bukan dia, maka mintalah bantuan dengannya. Dan siapa saja diantara kalian yang diserahi urusan ini sebagai pemimpin maka aku tidak akan memecatnya karena alasan lemah atau berkhiyanat". 

Selanjutnya 'Umar berkata; "Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memahami hak-hak kaum Muhajirin dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar selalu berbuat baik kepada Kaum Anshar yang telah menempati negeri (Madinah) ini dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) agar menerima orang baik, dan memaafkan orang yang keliru dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada seluruh penduduk kota ini karena mereka adalah para pembela Islam dan telah menyumbangkan harta (untuk Islam) dan telah bersikap keras terhadap musuh. Dan janganlah mengambil dari mereka kecuali harta lebih mereka dengan kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui karena mereka adalah nenek moyang bangsa Arab dan perintis Islam, dan agar diambil dari mereka bukan harta pilihan (utama) mereka (sebagai zakat) lalu dikembalikan (disalurkan) untuk orang-orang fakir dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar menunaikan perjanjian kepada ahlu Dzimmah (Warga non muslim yang wajib terkena pajak), yaitu orang-orang yang dibawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam (asalkan membayar pajak) dan mereka (ahlu dzimmah) yang berniyat memerangi harus diperangi, mereka juga tidak boleh dibebani selain sebatas kemampuan mereka". 

Ketika 'Umar sudah menghembuskan nafas, kami keluar membawanya lalu kami berangkat dengan berjalan. 'Abdullah bin 'Umar mengucapkan salam (kepada 'Aisyah radliallahu 'anha) lalu berkata; "'Umar bin Al Khaththab meminta izin". 

'Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Masukkanlah". 

Maka jasad 'Umar dimasukkan ke dalam liang lahad dan diletakkan berdampingan dengan kedua shahabatnya. Setelah selesai menguburkan jenazah 'Umar, orang-orang (yang telah ditunjuk untuk mencari pengganti khalifah) berkumpul. 

'Abdur Rahman bin 'Auf berkata; "Jadikanlah urusan kalian ini kepada tiga orang diantara kalian. 

Maka Az Zubair berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Ali. 

Sementara Thalhah berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Utsman. 

Sedangkan Sa'ad berkata; "Aku serahkan urusanku kepada 'Abdur Rahman bin 'Auf. 

Kemudian 'Abdur Rahman bin 'Auf berkata; "Siapa diantara kalian berdua yang mau melepaskan urusan ini maka kami akan serahkan kepada yang satunya lagi, Allah dan Islam akan mengawasinya Sungguh seseorang dapat melihat siapa yang terbaik diantara mereka menurut pandangannya sendiri. 

Dua pembesar ('Utsman dan 'Ali) terdiam. Lalu 'Abdur Rahman berkata; "Apakah kalian menyerahkan urusan ini kepadaku. Allah tentu mengawasiku dan aku tidak akan semena-mena dalam memilih siapa yang terbaik diantara kalian". 

Keduanya berkata; "Baiklah". Maka 'Abdur Rahman memegang tangan salah seorang dari keduanya seraya berkata; "Engkau adalah kerabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan dari kalangan pendahulu dalam Islam (senior) sebagaimana yang kamu ketahui dan Allah akan mengawasimu. Seandainya aku serahkan urusan ini kepadamu tentu kamu akan berbuat adil dan seandainya aku serahkan urusan ini kepada 'Utsman tentu kamu akan mendengar dan menta'atinya". 

Kemudian dia berbicara menyendiri dengan 'Utsman dan berkata sebagaimana yang dikatakannya kepada 'Ali. Ketika dia mengambil perjanjian bai'at, 'Abdur Rahman berkata; "Angkatlah tanganmu wahai 'Utsman". 

Maka Abdur Rahman membai'at 'Utsman lalu 'Ali ikut membai'atnya kemudian para penduduk masuk untuk membai'at 'Utsman". 

HR shahih Bukhari

Author : Jamal

Relationship

Yanti dan Riska adalah dua orang sahabat yang tidak terpisahkan, dimana ada Yanti pasti disitu ada Riska. Begitu dekatnya sampai-sampai teman-temannya bilang satu paket. Yanti berfikir Riska adalah sahabat sejatinya, tidak ada apapun yang dapat memisahkan mereka apapun yang terjadi, begitu pun Riska. Akan tetapi malang tak dapat di tolak untung tak dapat di raih, persahabatan yang sudah mereka bangun sejak SMP hancur tanpa bekas oleh sebuah pengkhianatan, setidaknya itu yang dirasakan oleh Yanti. Riska, sahabat karibnya, orang yang sudah dianggap saudara sendiri ternyata tega merebut kekasihnya. Baskoro, yang sudah berpacaran dengan Yanti selama kurang lebih 2 tahun memutuskannya dan memilih jalan dan menikah dengan Riska. Hancur hati Yanti saat itu, selama ini ia rela berbagi apaun dengan Riska sahabatnya, tapi tidak untuk yang ini. Rasa saling memiliki, saling berbagi yang selama ini terus bersemi seketika berubah menjadi benci tiada tepi…

Sebuah contoh dalam kehidupan, mungkin cerita di atas hanya cerita fiktif akan tetapi mungkin juga di antara kita ada yang pernah mengalaminya.

Sebuah hubungan baik itu pacaran, persahabatan, kekeluargaan atau apapun itu tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Masalah yang memiliki potensi untuk memutuskan hubungan tersebut. Hubungan dalam keluargapun yang note bene kita sudah saling kenal seumur hidup kita, tidak akan pernah lepas dari masalah. Apalagi hubungan-hubungan dengan orang lain yang ibaratnya hanya baru kemarin sore kita saling kenal.

Jika dalam suatu hubungan hanya masalah saja yang akan di temui, lalu untuk apa kita saling berhubungan dengan orang lain ?, apa untungnya kita memiliki teman, saudara, ataupun sahabat jika demikian ? 

Justru disinilah hikmahnya, sebagai makhluk sosial kita tidak akan dapat hidup tanpa orang lain. Kebutuhan-kebutuhan kita tidak hanya dapat kita penuhi sendiri, hak-hak kita sebagai manusia akan selalu berbenturan dengan hak-hak orang lain. Dan kita akan berbenturan dengan dorongan sisi psikologis kita untuk saling berbagi, berkomunikasi dan bersosialisasi. Tanpa orang lain, kita akan sakit, menderita dan bahkan mungkin bisa gila.

Sebagai makhluk beragama, yang memiliki keyakinan dan berakidah kita terikat oleh aturan-aturan agama yang kita yakini dan harus di ikuti.

Sebagai seorang Muslim, selain harus berhubungan dangan Allah SWT, kita juga di haruskan berhubungan dengan sesama. Adab-adab dalam bergaul pun harus mengikuti koridor yang dibenarkan oleh Islam. Jadi jelas, menjalin hubungan dengan sesama selain sebuah keharusan, juga merupakan sebuah kebutuhan.

Didalam setiap sendi kehidupan, masalah adalah sesuatu yang biasa. Tidak ada satupun gerak langkah kita dalam kehidupan yang tidak ada masalah. Karena dari masalah lah kualitas kita sebagai manusia akan teruji.

Artinya :
“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah : 155)

Tidak terkecuali dalam menjalin hubungan, setiap masalah yang muncul adalah sebuah ujian untuk kualitas kita, juga kualitas hubungan sosial kita. Yang menentukan bukan masalah apa yang sedang terjadi, tapi reaksi apa yang kita lakukan terhadap masalah tersebut. Jika sebuah masalah di respon dengan amarah, maka InsyaAllah perpecahan yang akan menjadi hasilnya. Tapi jika kesabaran yang digunakan, InsyaAllah hubungan sosial kita akan jauh lebih baik.

Jadi percayalah, kita tidak akan pernah rugi jika hubungan kita dengan teman, saudara atau siapapun dijalani sesuai jalan yang lurus, jalan yang di ridhoi Allah swt. Sebagai bahan renungan, mari kita baca Qs.Al-‘Asr : 1-3 berikut :
Artinya :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” 

Wallahu’alam bissawab…

Author : Sentot

Semua akan Ciee-ciee..pada waktunya !

Bismillah…

Assalamualaikum sahabat..

Minggu lalu, ketika saya iseng buka beranda facebook, scroll mouse saya berhenti di sebuah tulisan. Dari judulnya saja sudah menarik perhatian. Mungkin bisa dibilang Unik “semua akan cie cie pada waktunya”. Kira kira seperti dibawah ini tulisannya, tapi sedikit saya rangkum dan saya rewrite kembali.

Begini lho…

Bahwa laki laki lebih menguasai hal-hal global daripada perempuan. Tapi perempuan kebalikannya dari laki laki. Mereka lebih menguasai dan peka terhadap hal-hal rinci. Tidak heran pemikiran laki-laki lebih global, simple, meluas dan tepat dibanding perempuan. Perempuan terkadang lebih fokus pada furu’ mufashshalah (cabang-cabang rinci). Yang bahkan terkadang menurut laki laki hal rinci itu tidak begitu penting. Sebagai contoh , ketika berada dikajian majelis ilmu, biasanya laki laki mendengarkan ustadznya sambil menata mind-mapping global. Rincianya tidak begitu penting. Ego dan rasa ‘keperkasaan’ mereka akan berkata, “Ah, mikirin rinciannya juga bisa tanpa di-talqin”. Beda dengan perempuan, mendengarkan ustadznya, sambil banyak mencatat. Satu lembar, 2 lembar sampai beberapa lembar mencatat. Setelah itu ya sudah. Jika dibandingkan dengan laki laki, tetap saja laki laki akan lebih unggul. Karena laki laki lebih menguasai ushul. Sedangkan perempuan lebih menguasai furu’. Itu mengapa mereka (laki-laki) yang lebih menguasai ushul layak menjadi pemimpin.

Berbicara tentang kepemimpinan, tahukah jika laki-laki itu exist di pertama. Dia bisa berfoya dengan kemegahan. Tapi semegah-megahnya bujang dan jomblo, kalau belum beristri, maka kemegahannya ghayru mu'tabar (tidak teranggap). Malah dunia akan tertawa kalau seorang bujang sudah mapan tapi belum mau beristri. Mencari ilmu pun tidak. Ini abnormal. Perlu dipertanyakan dosis kelelakiannya. Coba tengok kisah Nabi Adam.

Nabi Adam alaihissalam, awalnya tinggalnya di surga. SURGA! SURGA! Apa sih yang tak enak di Surga? Enak semua, bro! Apa-apa asseeek. Tapi semegah-megahnya taraf hidup beliau di Surga, tetap saja beliau, suatu kala merasa murung. Ada yang kurang. Ada fitrah yang belum dilengkapi. Ada relung jiwa yang belum diisi. Perempuan. Ah, itu dia. Hidup laki-laki sehebat apapun tetap saja dependant (tergantung) pada makhluk bernama 'perempuan'. Maka, Allah berikan pasangan buat Nabi Adam. Yaitu Hawa.

Tapi memang sudah lazimnya. Ujian mesti ada. Susah seneng, suka duka tetap saja ada ujiannya. Nabi Adam meminta perempuan, namun kemudian dengan nyalah beliau jatuh ke bumi, Ke dasar cobaan yang ada. Ya, jangan mengira after-marriage itu ketemunya Surga saja. Salah besar. Ujiannya banyak. Kegalauannya malah lebih banyak, lebih rutin dan lebih tinggi intensitasnya dibandingkan kegalauan bujang.

Tapi tentu saja penyembuhnya lebih available dibandingkan bujang. Semua itu kalau di-manage sesuai syariah, insya Allah pahalanya besar. Dan dari semua kegalauan, baik sektor ekonomi, sosial, dan psikologi, ternyata laki-laki sangat matching untuk menghadapinya bersama perempuan. Tidak bisa hanya satu. Harus berdua. Kenapa? Karena laki-laki lebih menguasai ushul, sedangkan perempuan lebih menguasai furu'.

Laki laki (suami) lebih mampu mencari lebih banyak uang dan memang sudah keharusannya dan perempuan (istri) yang memanagenya. Masalah hal-hal rinci akan lebih mudah di-manage oleh istri. Jika laki-laki yang handle, istri bisa terzhalimi. Rumah tangga bisa rapuh. Sudahlah, biar ditangani istri. Belanja bulanan, istri cari semua barang di semua rak supermarket, suami cuma cari satu: bangku. Hehe.

Dari sektor sosial, laki laki lebih cuek terhadap hal hal rinci apalagi menyangkut hal rinci orang lain. Beda dengan perempuan, tensi ghibahnya lebih besar dari laki-laki. Seorang istri lebih bisa dijadikan untuk urusan sosial. Contohnya Arisan, Ibu PKK, sampai ‘ngerumpi di gerobak sayur’ ala emak-emak. Tentu saja aneh jika hal itu dilakukan oleh laki-laki.

Dari sektor psikologi: laki-laki dengan keperkasaannya akan rapuh tanpa perempuan dan bisa mudah rapuh karena perempuan. Perempuan dengan kelembutannya bisa menjadi pejuang gigih karena laki-laki. Berjuang sabar, tekun, baik-baik dan... Semua akan cie cie pada waktunya...

Siapapun dari sesiapa punya harapan tentang siapa, namun siap-siaplah. Jangan sampai hanya berharap tanpa bekal dan perjuangan. Semakin besar perjuanganmu dan kesabaranmu, menunjukkan semakin menghargai harapanmu sendiri dan menghargai dia yang di harapkan. Iya, menghargai dia, yang di harapkan. Barangsiapa yang menghargai, ia akan dihargai.Tetaplah (laki-laki) menjadi pemimpin. Tetaplah (perempuan) menjadi sandaran pemimpin.

Saat kamu datang ke undangan "fulan vs fulanah", mereka akan bertanya 'kapan kamu nyusul'. Sakitnya tuh di sana sini.Heheh. Sedang asik ngobrol dengan temen-temen, mulai ada yang membahas topik begitu, 'kamu kapan?' Sakitnya tuh di perasaan. Lihat pasangan gandengan. Lalu, karena tak ada yang bertanya, akhirnya diri sendiri yang bertanya, 'saya kapan?'Kalau mengingat pertanyaan 'kamu kapan?''kamu kapan?' 'kamu kapan?', rasanya sendi-sendi begitu sakit. Memang, sendi-sendi biasanya sakit karena sendirian.

Tapi percayalah, kamu tak perlu banyak kirim biodata, cukup perbaiki diri, kirim proposal kepada Allah setiap selesai shalat dan setiap 1/3 malam terakhir, jaga diri, pantaskan diri dan tawakkal, maka: "Semua Akan Cie Cie Pada Waktunya"

(Ustadz Hasan Al-Jaizy,Lc)

Author : Rahmalia